Minggu, 30 Januari 2011

Hutan Indonesia Jangan Dirusak....

Daratan merupakan tempat tinggal bagi makhluk hidup yang bernama manusia dan makhluk hidup lainnya yang bertempat tinggal di daratan. Makhluk hidup memerlukan kenyamanan untuk bertahan hidup di bumi. Dari waktu ke waktu bumi semakin kehilangan kenyaman itu. Ini bisa disebabkan karena menipisnya kawasan hutan yang membuat musim kemarau semakin panjang dan terasa semakin panas.
Hutan merupakan SDA (Sumber Daya Alam) yang terpenting bagi suatu Negara. Indonesia bisa dibilang Negara yang kaya akan sumber daya alam kehutanannya. Hampir dari 40% hutan tropis di dunia berada di Indonesia. Ini merupakan presentasi yang besar bagi suatu Negara seperti Indonesia. Ini juga merupakan keberuntungan yang harus disyukuri bagi masyarakat Indonesia.
Luas hutan yang berada di Indonesia mendapat urutan hutan terluas ke-3 di dunia. Dengan adanya luas hutan seluas ini, berarti terdapat berbagai macam keragaman hayati di Indonesia. Terutama di pulau-pulau Indonesia yang mempunyai lahan hutan luas. Contohnya, pulau Sumatera. Sebelum luas hutan di Sumatera mengalami penyempitan, disana terdapat keberagaman hayati yang unik-unik. Misalnya, harimau Sumatera, badak Sumatera, gajah Sumatera, dan orangutan Sumatera. Mereka semua bertempat tinggal di hutan Sumatera. Tapi, sekarang akibat dari penyempitan hutan di Sumatera, mamalia-mamalia besar tersebut sudah terancam punah. Karena rumah mereka mengalami penyempitan, sehingga hanya mamalia yang beruntung saja yang akan hidup, sedangkan yang tidak beruntung akan mati.
Jika direnungkan, akan sangat disayangkan jika hutan Indonesia terus mengalami penyempitan. Luas hutan yang mengalami kerusakan hampir mencapai 3 juta hektar per tahun. Hal ini menyebabkan keragaman spesies di habitatnya terancam punah.
Keadaan hutan di Indonesia memang sebaiknya menjadi perhatian yang nomer satu, karena memang sekarang ini hutan Indonesia sudah mencapai fase kritis. Keadaan hutan Indonesia yang terjadi sekarang ini masih bisa diperparah lagi apabila pemerintah tidak segera melakukan tidakan yang riil dan tepat untuk kelangsungan hutan Indonesia.
Rusaknya hutan Indonesia, ini bukan sepenuhnya salah pemerintah. Malahan mungkin hampir 75% kerusakan hutan Indonesia disebabkan oleh rakyat kecil. Jadi, untuk mengatasi kerusakan hutan Indonesia seperti yang terjadi sekarang ini, rakyat kecil dan pemerintah harus duduk berdiskusi bersama membahas keadaan hutan Indonesia sekarang ini.
Kerusakan hutan di Indonesia semakin mendapatkan perhatian dari berbagai lembaga terutama dari pihak Internasional. Apalahi jika masalah rusaknya hutan dikaitkan dengan maraknya berita yang sedang memanas sekarang ini. Yaitu berita tentang “GLOBAL WARMING”.
Global warming atau bisaa kita sebut dengan “Pemanasan Global”. Peristiwa semakin panasnya suhu bumi yang diakibatkan perubahan suhu bumi yang tidak stabil. Dengan rusaknya hutan-hutan di dunia terutama hutan-hutan di Indonesia, berarti kita telah memberi peluang yang baik untuk terjading Global warming ini. Jika pemanasan global ini terus terjadi, es-es yang berada di Kutub Utara dan Kutub Selatan akan mencair. Sehingga permukaan air laut akan naik dan permukaan daratan akan berkurang. Sampai sekarang ini pun, sudah banyak pulau-pulau kecil di Indonesia yang hanyut atau hilang tertutup air laut. Itu baru di Indonesia, bagaimana dengan seluruh Negara di dunia?.
Kembali membahas keadaan hutan Indonesia. Jika kita semua tidak segera mengambil tindakan yang cepat dan tepat untuk hutan kita. Banyak pulau-pulau di Negara kita akan mengalami kekeringan dan kehilangan lahan-lahan hutan. Yang sebenarnya menurut survey, hutan sangat penting untuk kelangsungan hidup makhluk hidup. Bisa di renungkan, kalau kelangsungan hidup makhluk hidup bergantung pada hutan.
Hutan Indonesia yang sudah dalam kondisi SOS (save our soul / selamatkan jiwa kami) yang sangat menanti tindakan tegas dan terarah dari pemerintah melalui kesiapan aparatnya untuk menyelamatkan masa depan hutan yang sekaligus menyangkut masa depan kita semua (Doc. Internet). Jika hutan Indonesia bisa berbicara, mungkin hutan Indonesia akan berkata “save our soul, save our soul” (selamatkan jiwa kami, selamatkan jiwa kami). Karena memang jika kita bisa merasakan menjadi hutan Indonesia, sakit rasanya diperlakukan seperti itu.
Dengan kondisi hutan Indonesia yang sudah mencapai tahap SOS ini. Berarti makin sempit peluang bumi untuk bernafas. Karena memang, hutan Indonesia merupakan paru-paru dunia. Kalau dalam organ manusia, paru-paru sangat menentukan hidup atau matinya seseorang. Karena dengan paru-paru ini manusia bernafas. Bisa disimpulkan, kalau hutan Indonesia mengalami kerusakan, berarti paru-paru dunia yang digunakan untuk bernafas juga mengalami gangguan.
Hutan Indonesia bisa dibilang sebagai penyumbang pemasokan oksigen terbanyak untuk bumi bernafas. Tapi melihat keadaan hutan Indonesia yang sekarang ini, pernyataan itu perlu dipertanyakan lagi?. Karena jangan-jangan Indonesia sudah pensiun dari jabatannya sebagai penyumbang oksigen terbanyak untuk bumi bernafas.

Hutan Terkaya di Dunia Terancam Punah

Ternyata masih ada yang patut dibanggakan
dari Indonesia. Di propinsi Riau terdapat suatu hutan
tropis dataran rendah yang setelah diteliti ternyata
merupakan hutan terkaya di dunia. Hutan itu yang
diberi nama Tesso Nilo itu, sudah lama menjadi
perhatian para peneliti dari WWF (The Worldwide Fund
for Nature ). Menurut mereka, Tesso Nilo menyimpan
kekayaan berupa keanekaragaman flora yang luar biasa.
Berukuran 1600 km persegi, di Tesso Nilo setiap 200
meter persegi areanya bisa ditemukan 214 spesies
tanaman vaskular, yaitu tanaman memiliki sejenis
pembuluh untuk menyebarkan sari- sari makanan.


Jumlah ini nyaris dua kali lipat lebih banyak
dibandingkan jumlah 114 spesies yang pernah tercatat
menggunakan metode penelitian yang sama di hutan-
hutan tropis lainnya di dunia. Juga lebih banyak dari
yang terdapat di negara- negara tropis lainnya yang
memiliki kekayaan hayati seperti Brasilia, Kamerun,
Malaysia, Papua Nugini, Peru dan Thailand, demikian
menurut WWF dalam laporannya yang dikeluarkan tanggal
4 Februari 2002 yang lalu. Sebagaimana diketahui,
hutan hujan tropis merupakan tempat di dunia ini yang
paling memiliki kekayaan aneka ragam flora dan fauna.
Di antara hutan- hutan tropis itu, Tesso Nilo yang
terkaya. Singkat kata, tidak ada hutan dataran rendah
lainnya sepanjang pengetahuan yang mendekati kekayaan
aneka ragam hayati di Tesso Nilo, yang juga merupakan
tempat tinggal bagi bermacam satwa liar seperti gajah,
kera besar, kucing hutan dan tapir.” Kata WWF yang
mengadakan penelitian ini bersama dengan Centre for
Biodiversity Management, Australia.

Sayangnya hutan yang bisa menjadi kebanggaan bagi
Indonesia ini terancam punah karena penebangan kayu
liar dan penebangan kayu berskala besar yang hanya
memikirkan keuntungan semata. Baik penebang kayu liar
maupun perusahaan perkayuan dan kertas menebang hutan
hanya untuk diambil kayunya tanpa memperdulikan bahwa
di sekitar hutan tersebut terdapat banyak
keanekaragaman hayati yang luar biasa. Tesso Nilo
merupakan salah satu hutan tropis yang tersisa di
Sumatera yang amat terancam punah sehingga Bank Dunia
memperkirakan bahwa hutan tersebut akan habis sama
sekali pada tahun 2005. Andrew Gillison, salah seorang
penulis laporan WWF tersebut malah memperkirakan bahwa
Tesso Nilo dapat hilang dalam waktu 3 tahun!Pepohonan
besar bertumbangan (karena penebangan) di sekitar kami
selagi kami mengukur dan menghitung tanaman,” katanya.

Nazir Foead, koordinator WWF Indonesia mengatakan
kepada CNN bahwa “Tahun lalu selama periode 6 hari
kami mengamati 1200 buah truk penebangan ilegal yang
meninggalkan hutan tersebut dengan membawa 10.000
meter kubik kayu. Kami ingin supaya penebangan
tersebut dihentikan.” Katanya. Meskipun Departemen
Kehutanan telah menyatakan perang dengan penebangan
ilegal, pada prakteknya masih terus berlangsung dan
melibatkan komunitas setempat, birokrat, oknum militer
dan pasar global, demikian menurut WWF.

Sementara itu, menurut WWF, salah satu perusahaan
Indonesia yaitu Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP)
masih terlihat membabati hutan Tesso Nilo dalam rangka
merubah lahan tersebut menjadi perkebunan Akasia demi
kepentingan industri kertas. Pihak RAPP sendiri
mengatakan kepada WWF bahwa mereka memiliki ijin resmi
untuk beroperasi, namun itupun masih bisa
diperdebatkan apakah ijin yang diberikan termasuk
untuk membabat Tesso Nilo, mengingat sudah ada
moratorium pemerintah tahun 2000 yang mengatur masalah
konversi hutan di Indonesia. Seandainya ijin pun benar
ada, ada baiknya ijin tersebut (untuk membabat Tesso
Nilo) dibatalkan dan area itu dijadikan prioritas
perlindungan.

Chris Barr, ilmuwan kebijakan perhutanan dari Centre
for International Forestry Research (CIFOR) yang
berbasis di Indonesia menyatakan bahwa perusahaan-
perusahaan kayu dan kertas di Indonesia hanya
merupakan sebagian dari permasalahan kehutanan di
Indonesia. Reformasi ekonomi yang dikonsepkan oleh IMF
dan Bank Dunia telah memicu invetasi spekulatif di
bidang perhutanan dan meningkatkan penebangan kayu
oleh para perusahaan kayu dan kertas, baik kecil
maupun yang bermodal besar.

Ketika menandatangani kesepakatan dengan IMF tahun
1998, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk
meningkatkan eksport dengan komoditas yang laku dijual
(baca: komoditas yang dibutuhkan di negara maju tetapi
tidak dapat dihasilkan di negara- negara tersebut).
Ternyata industri kayu dan kertas termasuk di dalam
komoditas tersebut. Paket kesepakatan dengan IMF juga
menyertakan sejumlah reformasi kebijakan khusus untuk
merestrukturisasi hutan Indonesia.Para ahli lingkungan
hidup juga melihat peran dari lembaga dana eksport,
yang berbasis di Jepang, Eropa dan Amerika Utara, yang
telah merangsang kemusnahan hutan di Indonesia dengan
cara memberi bantuan kepada perusahaan- perusahaan
kayu dan kertas fasilitas dan dana tanpa
mempersyaratkan keamanan dan pelestarian lingkungan.

Perusahaan Indah Kiat Pulp and Paper misalnya
mengkonsumsi 200 km persegi hutan tropis tua per tahun
karena penanaman kembali yang dilakukan belum cukup
dewasa untuk dikonsumsi, menurut Stephanie Fried,
ilmuwan dari lembaga Environmental Defense, New York.
Menurut CIFOR lagi, selama 12 tahun ini Indah Kiat
telah mengkonsumsi hutan seluas 278.000 hektar, areal
seluar negara Luxemburg. Indah Kiat Mill misalnya,
dibiayai oleh paket investasi sebesar 500 juta dollar
amerika yang didukung oleh lembaga Kanada, Finlandia,
Swedia dan Spanyol, demikian menurut Stephanie Fried.


Tentu kita tidak rela melihat kekayaan alami Indonesia
yang terbentuk karena proses ribuan tahun tersebut
hilang karena kepentingan sejumlah kecil pengusaha
serakah. Semoga kali ini pemerintah benar- benar
menaruh perhatian dan mulai mencoba untuk
menyelamatkan hutan tersebut sebagaimana seharusnya
juga pada hutan- hutan lain di Indonesia.

Sabtu, 29 Januari 2011

POHON TERTINGGI DI DUNIA

Berikut ini merupakan pohon tertinggi yang pernah diukur
Pohon Tertinggi di Dunia
1. Coast Redwood

Hyperion, sebuah pohon Coast Redwood di California, dengan ketinggian 115,5 m ini merupakan pohon tertinggi di dunia, yang ditemukan pada tahun 2006. Hyperion adalah nama sebuah pohon redwood pantai California Utara yang telah dikonfirmasi untuk mengukur 115,55 m (379,1 kaki), yang menempati peringkat tertinggi di dunia yang dikenal masih hidup. Meskipun tinggi, Hyperion bukanlah coast redwood terbesar yang diketahui.
2. Coast Douglas Fir

Coast Douglas-fir adalah pohon yang sangat tinggi, pohon jarum tertinggi kedua di dunia (setelah Coast Redwood). Pohon 60-75 m (200-250 kaki) atau lebih tinggi dan 1,5-2 m (5-6 kaki) dengan diameter yang umum dalam pertumbuhan yang lama, dan tinggi 100-120 m (300-400 kaki). Spesimen hidup yang tertinggi adalah “Doerner Fir”, (sebelumnya dikenal sebagai Cemara Brummit ), tingginya 100,3 m, di East Fork Creek di Brummit Creek County, Oregon. Yang paling lebar adalah “Queets Fir”, diameter 4,85 m, di lembah Sungai Queets, Olympic National Park, Washington. Ini biasanya hidup lebih dari 500 tahun dan kadang-kadang lebih dari 1.000 tahun.
3. Australian Mountain-ash

Eucalyptus regnans, yang dikenal dengan berbagai nama-nama umum Mountain Ash, Victoria Ash, Swamp Gum, Tasmania Oak atau berserabut Gum, adalah spesies asli Eucalyptus tenggara Australia, di Tasmania dan Victoria. Diketahui mencapai ketinggian lebih dari 295 kaki (90 meter) dan digambarkan sebagai tanaman berbunga tertinggi.
4. Sitka Spruce

The Sitka Spruce (Picea sitchensis) adalah termasuk jenis pohon jarum besar tumbuh pohon cemara tinggi 50-70 m, luar biasa sampai 90 m tinggi, dan dengan diameter batang hingga 5 m. Ini adalah spesies pohon cemara terbesar dan yang ketiga spesies konifer tertinggi di dunia (setelah Coast Redwood dan Coast Douglas-fir). Ia memperoleh namanya dari komunitas Sitka, Alaska.
5. Giant Sequoia

Ini Giant Sequoia atau Sequoiadendron giganteum tingginya 94,9 m (311,4 kaki) yang berlokasi di Redwood Mountain Grove, Kings Canyon National Park, California, Amerika Serikat
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...